Jumat, 21 Februari 2014

Tiga Pintu Kebijaksanaan



Alkisah Seorang Raja, mempunyai anak tunggal yg pemberani, terampil dan pintar. Untuk menyempurnakan pengetahuannya, ia mengirimnya kepada seorang pertapa bijaksana. "Berikanlah pencerahan padaku tentang Jalan Hidupku" Sang Pangeran meminta.
"Kata-kataku akan memudar laksana jejak kakimu di atas pasir", ujar Pertapa. "Saya akan berikan petunjuk padamu, di Jalan Hidupmu engkau akan menemui 3 pintu. Bacalah kata-kata yang tertulis di setiap pintu dan ikuti kata hatimu."

Sekarang pergilah sang Pertapa menghilang dan Pangeran melanjutkan perjalanannya. Segera ia menemukan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis kata "UBAHLAH DUNIA"

"Ini memang yang kuinginkan" pikir sang Pangeran. "Karena di dunia ini ada hal-hal yang aku sukai dan ada pula hal-hal yang tak kusukai. Aku akan mengubahnya agar sesuai keinginanku" Maka mulailah ia memulai pertarungannya yang pertama, yaitu mengubah dunia. Ambisi, cita-cita dan kekuatannya membantunya dalam usaha menaklukkan dunia agar sesuai hasratnya. Ia mendapatkan banyak kesenangan dalam usahanya tetapi hatinya tidak merasa damai. Walau sebagian berhasil diubahnya tetapi sebagian lainnya menentangnya.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari, ia bertemu sang Pertapa kembali.

"Apa yang engkau pelajari dari Jalanmu ?" Tanya sang Pertapa

"Aku belajar bagaimana membedakan apa yang dapat kulakukan dengan kekuatanku dan apa yang di luar kemampuanku, apa yang tergantung padaku dan apa yang tidak tergantung padaku" jawab Pangeran

"Bagus! Gunakan kekuatanmu sesuai kemampuanmu. Lupakan apa yang diluar kekuatanmu, apa yang engkau tak sanggup mengubahnya" dan sang Pertapa menghilang.

Tak lama kemudian, sang Pangeran tiba di Pintu kedua yang bertuliskan "UBAHLAH SESAMAMU"

"Ini memang keinginanku" pikirnya. "Orang-orang di sekitarku adalah sumber kesenangan, kebahagiaan, tetapi mereka juga yang mendatangkan derita, kepahitan dan frustrasi"

Dan kemudian ia mencoba mengubah semua orang yang tak disukainya. Ia mencoba mengubah karakter mereka dan menghilangkan kelemahan mereka. Ini menjadi pertarungannya yang kedua.

Tahun-tahun berlalu, kembali ia bertemu sang Pertapa.

"Apa yang engkau pelajari kali ini?"

"Saya belajar, bahwa mereka bukanlah sumber dari kegembiraan atau kedukaanku, keberhasilan atau kegagalanku. Mereka hanya memberikan kesempatan agar hal-hal tersebut dapat muncul. Sebenarnya di dalam dirikulah segala hal tersebut berakar"

"Engkau benar" Kata sang Pertapa. "Apa yang mereka bangkitkan dari dirimu, sebenarnya mereka mengenalkan engkau pada dirimu sendiri. Bersyukurlah pada mereka yang telah membuatmu senang & bahagia dan bersyukur pula pada mereka yang menyebabkan derita dan frustrasi. Karena melalui merekalah, Kehidupan mengajarkanmu apa yang perlu engkau kuasai dan jalan apa yang harus kau tempuh"

Kembali sang Pertapa menghilang.

Kini Pangeran sampai ke pintu ketiga "UBAHLAH DIRIMU"

"Jika memang diriku sendirilah sumber dari segala problemku, memang disanalah aku harus mengubahnya". Ia berkata pada dirinya sendiri.

Dan ia memulai pertarungannya yang ketiga. Ia mencoba mengubah karakternya sendiri, melawan ketidak sempurnaannya, menghilangkan kelemahannya, mengubah segala hal yg tak ia sukai dari dirinya, yang tak sesuai dengan gambaran ideal.

Setelah beberapa tahun berusaha, dimana sebagian ia berhasil dan sebagian lagi gagal dan ada hambatan, Pangeran bertemu sang Pertapa kembali.

"Kini apa yang engkau pelajari ?"

"Aku belajar bahwa ada hal-hal di dalam diriku yang bisa ditingkatkan dan ada yang tidak bisa saya ubah"

"Itu bagus" ujar sang pertapa.

"Ya" lanjut Pangeran, "tapi saya mulai lelah untuk bertarung melawan dunia, melawan setiap orang dan melawan diri sendiri. Tidakkah ada akhir dari semua ini ? Kapan saya bisa tenang ? Saya ingin berhenti bertarung, ingin menyerah, ingin meninggalkan semua ini !"

"Itu adalah pelajaranmu berikutnya" ujar Pertapa. Tapi sebelum itu, balikkan punggungmu dan lihatlah Jalan yang telah engkau tempuh". Dan ia pun menghilang.

Ketika melihat ke belakang, ia memandang Pintu Ketiga dari kejauhan dan melihat adanya tulisan di bagian belakangnya yang berbunyi "TERIMALAH DIRIMU".

Pangeran terkejut karena tidak melihat tulisan ini ketika melalui pintu tsb. "Ketika seorang mulai bertarung, maka ia mulai menjadi buta" katanya pada dirinya sendiri. Ia juga melihat, bertebaran di atas tanah, semua yang ia campakkan, kekurangannya, bayangannya, ketakutannya. Ia mulai menyadari bagaimana mengenali mereka, menerimanya dan mencintainya apa adanya.

Ia belajar mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi membandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa mengadili, tanpa mencerca dirinya sendiri.

Ia bertemu sang Pertapa, dan berkata "Aku belajar, bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri sama saja dengan mengutuk untuk tidak pernah berdamai dengan diri sendiri. Aku belajar untuk menerima diriku seutuhnya, secara total dan tanpa syarat."

"Bagus, itu adalah Pintu Pertama Kebijaksanaan" , ujar Pertapa.

"Sekarang engkau boleh kembali ke Pintu Kedua"

Segera ia mencapai Pintu Kedua, yang tertulis di sisi belakangnya "TERIMALAH SESAMAMU"

Ia bisa melihat orang-orang di sekitarnya, mereka yang ia suka dan cintai, serta mereka yang ia benci. Mereka yang mendukungnya, juga mereka yang melawannya. Tetapi yang mengherankannya, ia tidak lagi bisa melihat ketidaksempurnaan mereka, kekurangan mereka. Apa yang sebelumnya membuat ia malu dan berusaha mengubahnya.

Ia bertemu sang Pertapa kembali, "Aku belajar" ujarnya "Bahwa dengan berdamai dengan diriku, aku tak punya sesuatupun untuk dipersalahkan pada orang lain, tak sesuatupun yg perlu ditakutkan dari merela. Aku belajar untuk menerima dan mencintai mereka, apa adanya.

"Itu adalah Pintu Kedua Kebijaksanaan" ujar sang Pertapa,
"Sekarang pergilah ke Pintu Pertama"

Dan di belakang Pintu Pertama, ia melihat tulisan "TERIMALAH DUNIA"

"Sungguh aneh" ujarnya pada dirinya sendiri "Mengapa saya tidak melihatnya sebelumnya". Ia melihat sekitarnya dan mengenali dunia yang sebelumnya berusaha ia taklukan dan ia ubah.

Sekarang ia terpesona dengan betapa cerah dan indahnya dunia. Dengan kesempurnaannya. Tetapi, ini adalah dunia yang sama, apakah memang dunia yang berubah atau cara pandangnya?

Kembali ia bertemu dengan sang Pertapa : "Apa yang engkau pelajari sekarang ?"

"Aku belajar bahwa dunia sebenarnya adalah cermin dari jiwaku. Bahwa Jiwaku tidak melihat dunia melainkan melihat dirinya sendiri di dalam dunia. Ketika jiwaku senang, maka dunia pun menjadi tempat yang menyenangkan. Ketika jiwaku muram, maka dunia pun kelihatannya muram.

Dunia sendiri tidaklah menyenangkan atau muram. Ia ADA, itu saja.

Bukanlah dunia yang membuatku terganggu, melainkan ide yang aku lihat mengenainya. Aku belajar untuk menerimanya tanpa menghakimi, menerima seutuhnya, tanpa syarat.

"Itu Pintu Ketiga Kebijaksanaan" ujar sang Pertapa. "Sekarang engkau berdamai dengan dirimu, sesamamu dan dunia" Sang pertapa pun menghilang.

Sang pangeran merasakan aliran yang menyejukkan dari kedamaian, ketentraman, yang berlimpah merasuki dirinya. Ia merasa hening dan damai.

dan ini pun akan Berlalu

Alkisah Seorang petani kaya mati dan meninggalkan kedua putranya.
Sepeninggal ayahnya, kedua putra ini hidup bersama dalam satu rumah. Sampai suatu hari mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah dan membagi dua harta warisan ayahnya. Setelah harta terbagi, masih tertingal satu kotak yang selama ini disembunyikan oleh ayah mereka.

Mereka membuka kotak itu dan menemukan dua buah cincin di dalamnya, yang satu terbuat dari emas bertahtakan berlian dan yang satu terbuat dari perunggu murah. Melihat cincin berlian itu, timbullah keserakahan sang kakak, dia menjelaskan, “Kurasa cincin ini bukan milik ayah, namun warisan turun-temurun dari nenek moyang kita. Oleh karena itu, kita harus menjaganya untuk anak-cucu kita. Sebagai saudara tua, aku akan menyimpan yang emas dan kamu simpan yang perunggu.”

Sang adik tersenyum dan berkata, “Baiklah, ambil saja yang emas, aku ambil yang perunggu.” Keduanya mengenakan cincin tersebut di jari masing-masing dan berpisah.

Sang adik merenung, “Tidak aneh kalau ayah menyimpan cincin berlian yang mahal itu, tetapi kenapa ayah menyimpan cincin perunggu murahan ini?” Dia mencermati cincinnya dan menemukan sebuah kalimat terukir di cincin itu: INI PUN AKAN BERLALU. “Oh, rupanya ini mantra ayah…,” gumamnya sembari kembali mengenakan cincin tersebut.

Kakak-beradik tersebut mengalami jatuh-bangunnya kehidupan. Ketika panen berhasil, sang kakak berpesta-pora, bermabuk-mabukan, lupa daratan. Ketika panen gagal, dia menderita tekanan batin, tekanan darah tinggi, hutang sana-sini. Demikian terjadi dari waktu ke waktu, sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan batinnya, sulit tidur, dan mulai memakai obat-obatan penenang. Akhirnya dia terpaksa menjual cincin berliannya untuk membeli obat-obatan yang membuatnya kecanduan.

Sementara itu, ketika panen berhasil sang adik mensyukurinya, tetapi dia teringatkan oleh cincinnya: INI PUN AKAN BERLALU. Jadi dia pun tidak menjadi sombong dan lupa daratan.
Ketika panen gagal, dia juga ingat bahwa: INI PUN AKAN BERLALU, jadi ia pun tidak larut dalam kesedihan.

Hidupnya tetap saja naik-turun, kadang berhasil, kadang gagal dalam segala hal, namun dia tahu bahwa tiada yang kekal adanya. Semua yang datang, hanya akan berlalu.

Dia tidak pernah kehilangan keseimbangan batinnya, dia hidup tenteram, hidup seimbang, hidup bahagia.
BE WISE ...

Rabu, 19 Februari 2014

rebah_KU & rebah_MEREKA



kalau...

DATUK MUSENG hanya ingin MENYATU bersama MAIPA lewat TEMPA_TEMPA PA'LUNGANNA.

DAVY JONES yg telah memberikan HATINYA untuk CALYPSO dalam PIRATES OF CARRIBEAN.

serta MUHAMMAD yg hanya TUNDUK & PATUH kepada ALLAH seperti yg terlukis dalam AL_QURAN.

maka AKUpun seperti itu SAYANGKU. jauh hari semenjak aku mengenalmu, JIWAKU telah rebah dalam KELEMBUTAN & KETEGARANMU lewat instrumet catatan singkat tentang KEKUATAN, PENGETAHUAN & KEBAHAGIAAN diatas sebuah KURSI MIRING yg sedikit KUSUT ditepi TANGGA.

Titipan Hari Esok



Bersama Laut membuatku sedidkit Takut…
Namun aku tak mesti kaku karna darinya aku dapat mengenal Maut.

Bersama Gua aku bisa menyapa Gelap...
Namun aku tak mesti terlelap karna darinya ku temukan Gemerlap Warna hidup yang membuataku tetap Tegap.

Bersama Gunung & Hutan hidupku terasa nyaman...
Namun aku tak harus bingung saat Tuhan hadirkan Hujan karna Tempayan telah terpampang dan Bayangmu selalu hadir tuk Menghangatkan.

Bersamamu aku jauh lebih bahagia...
walau kita memiliki banyak perbedaan namun kita bisa satu dalam memandang cinta dan kebersamaan.


Bukankah Tuhan mencipta sesuatu karna Cinta…
Bukankah Alam tercipta karna Kepatuhan…
Bukankah Manusia hadir sebagai pelengkap dari Kesempurnaan sebuah kehidupan…


Berdiri diatas lukisan sang bumi lewat gemuruh gempa dari sudut kesunyian…
membuat aku tergelanyut risau dalam peluk kasih sang angin.
hingga Membuat aku berfikir…?
Akankah kita tetap berdiri bersama diatas equilibrium kedamaian.

Menelungkup damai dalam ayunan sang lembah di tepi sepi…
Memaksa aku berbincang lantang dengan angan.
Hingga Membuat aku bertanya…?
Akankah kita tetap berpegangan saat badai menghantam sudut kecil hati kita...

Tertidur pulas disamping pahatan sang tebing yang membentuk gletser dari puncak keabadian…
Gerakkan mimpi menuju pendakian spiritual yang begitu menantang dalam pusat kebekuan…
Hingga membuat aku berharap…?
Semoga engkau selalu tersenyum atas setiap pilihanmu.

Lewat tiupan angin kucoba titip hari esok…

Karna secawan Anggur membuat aku bertambah jauh darimu...
Karna selembar Papir dan Ganja yang menghijau membuatku susah melukis wajahmu dalam pelukkan hangat sang Actuspurus…
Karna sebongkah Sabu tak mampu menggerakkan tubuhku untuk duduk disampingmu & membelaimu…
karna engkau adalah kesempurnaan itu sendiri dan engkau adalah alasan aku hidup sampai saat ini...

smoga damai slalu melingkupi hari-harimu.
Syaloom

Kupanggil Engkau Mentari

 



Saat engkau terhalang awan
sudut hati menjadi rawan
bagai jiwa tak bertuan
merangkak pelan di tepi hutan

Apakah engkau bersembunyi dari smua yang mebutuhkanmu...?
Apakah engaku hilang dari jiwa yang resah menunggumu...?


Aku hanya terdiam
Tak tau kemana di bawa malam

Hari ini seseorang memberiku pesan

dengan sehelai rasa riang, kuputuskan untuk menanamnya di tengah taman 


Dia berkata

"Mentari itu masih Ada

Dia masih Terbit di balik bukit
Tepat saat rakit lelah terkayuh di tepi parit
kau akan temukan dia berbagi suka bersama keluarganya"

Awalnya Aku kaget, tak tau harus berkata apa
saat kenangan menjelma menjadi harapan
saat dunia maya tergeser oleh sebaris fakta
seperti wajah dalam belanga, kini aku terlihat lebih tampan



Keteduhan...
Keindahan...
Kepatuhan...
Serta Ketegaran yang tak pernah luput dari Peranmu
membuatku tunduk tak berdaya di depanmu


mungkin...
Sudah waktunya mencoba mengurai yang berserak
Sudah waktunya mengatur jarak dengan esok
Sudah waktunya mengasah besi menjadi perak
Sebab harapan takkan menjadi bila diam menguasai Gerak

yang pasti
Aku kan tetap meniti mimpi dengan Vespa Butut tuk bisa bertemu dan bersatu denganmu
Aku kan tetap berdiri di sisi Kursi Miringmu menjagamu hingga waktu melelapkanmu
Aku kan tetap berbagi hingga kau tersadar bahwa Anuku Hanya Untuk dirimu 
karna kau menjadi alasan kenapa aku Ada



terakhir kuselip doa dalam tidurmu
Semoga kau selalu tersenyum
Semoga kau selalu bersinar
Menjadi satu dengan Kosmos
Dalam Bingkai Kasih Sayang Tuhan.

SAVE ALL

Aku tak tahu harus berkata apa saat MALAM mulai MENYAPA...
Aku tak tahu harus berbuat apa saat ANGIN hendak MERABA...
Aku tak tahu harus kemana saat SUNYI hendak BERTAMU...
Aku tak tahu...

Melangkah perlahan di TEPI SEPI membuatku terdiam sejenak...
Apakah GUNUNG & TEBING hanya tercipta kepada PARA PEMILIK MODAL...

Bersenggama dengan HENING membuatku tertawa kegirangan...
Karna saat ini LAUT hanya sebuah proyek yang banyak meresahkan MASYARAKAT PESISIR...

Berselingkuh dengan TERANG membuatku mataku sedikit terbuka...
Sampai kapan kita harus menelanjangi HUTAN atas nama PEMBANGUNAN....

Menari dalam PELUKAN KEGELAPAN kegelapan membuatku jenuh tak berdaya...
Akankah LANGIT berpihak & memberikan warna baru seperti yang terlukis dalam MIMPI para BURUH TANI...


Yang terlihat semua DIAM...
Yang terlihat semua TENANG _ TENANG saja...
Yang terlihat semua MENIKMATI...
Seolah kita hanya hadir sejenak di BUMI dan tak punya tanggung jawab akan ALAM...

MAKRO _ KOSMOS dalam penantianmu...
MAKRO _ KOSMOS bagian dari hidupmu...
MAKRO _ KOSMOS selalu bersamamu saat kita hendak memulai langkah...
Karna kita hanyalah MIKRO _ KOSMOS...


Terkadang kita lupa berapa banyak budak yang harus meninggal hanya untuk menghasilkan keperkasaan PIRAMID...

Terkadang kita lupa berapa banyak masyarakat pesisir yang mesti kehilangan mata pencaharian hanya untuk menghasilkan keindahan MALL GTC dan keagungan TRANS STUDIO...

Terkadang kita lupa bahwa ada berapa juta saat ini manusia indonesia yang rela menjadi PSK karna hak hidup dan berusahanya terampas oleh kejamnya TUAN MODERNISME...

Terkadang kita PURA _ PURA tak mengerti dan TAK MAU TAHU tentang segalanya...

Karna kita hanyalah SEBONGKAH mahluk ECONOMICUS yang lebih mementingkan EGO PRIBADI dibanding EGO MASYARAKAT...


Saat esok mata kita mulai terbuka oleh percikan cahaya fajar...
Mungkin sudah saatnya bagi kita tuk saling berbagi....
Bukan hanya kepada ALAM... tapi juga kepada sesama....
Karna tanpa mereka HIDUP TAK AKAN BERWARNA...


Lewat SEGENGGAM SEMANGAT dan SETITIK SENYUM...
Mari kita JAGA KEHIDUPAN KITA SEMUA...

kapan kira-kira...

Saat rasa geram hendak melawan
Saat asa melayang mengawan-awan
Saat diri hanya bisa bungkam
Saat itu kuselip angan dengan tenang

Mengingatmu terasa teduh
Menatapmu hadirkan haru
Bersamamu peluh terbasuh
Di sisimu aku termangu

Kapan lagi kehangatan hadir bersama seyum tawamu di sela hijaunya daun murbey
Kapan lagi kerinduan terobati dengan kepingan kentang goreng bersama hadirmu
Kapan lagi selentingan mimpi-mimpi bersatuan dengan kenyataan hingga aroma dan hijaunya daun ganja menyengat mimpi jadi nyata
Kapan lagi kumabuk karenamu hingga saat kutersadar kutelah jatuh dalam pangkuanmu…
Kapan….

Yang kutahu engkau selalu semangat
Yang kutahu engkau selalu bahagia
Yang kutahu engkau setia

Semoga doa bisa menyejukkanmu dalam terik
Semoga mimpi mengantarkanmu dalam tujuan
Semoga langkah mejadikanmu tegar dengan semuanya

Amien…………….

Selasa, 18 Februari 2014

surat kaleng Untuk TUHAN

aku sadar…….
aku bukanlah orang yang bisa merangkai pesan rindu untuk-NYA

aku sadar……
aku bukanlah orang yang mampu menyampaikan pesan indah untuk-NYA

aku sadar…….
Bahwa ini hanya merupakan suara sumbang dari sudut hati kecil yang setiap saat melengking dan menerawang dalam angan

Karena ku sadar……
aku bukanlah siapa – siapa

aku sadar.......
Ini hanya surat kaleng yang coba melukis Keagungan dan Kasih Sayang-MU

aku sadar......
Ini hanya seonggok teks bersambung yang berupaya mempertanyakan kembali semua aspek kehidupan yang telah engKAU beri.....

Saat engKAU menyapaku dengan hangat dan penuh harap...
aku memalingkan wajah yang masam darimu pandanganmu.

Saat engKAU menyokongkan segenggam rezki untukku...
aku katakan bahwa semua ini tidak ada hubungannya denganmu.
Semua ini kuperoleh dari hasil usahaku sendiri

Saat engKAU mengirimkan padaku berkah kesehatan......
Kugumamkan bahwa semua ini karena perhatianku sendiri pada kesehatan tubuh...

Saat semua bersorak menyembahMU.....
Yang kulakukan hanya menghujatmu...
Dan menganggapMU seonggok pikiran yang tertanan dalam dalam kepalaku sejak lama oleh para pendahuluku.

Tapi .........
Kenapa engKAU begitu mengasihi ciptaanMU........?
Kenapa kasih sayangMU melebihi keperkasaanMU.......?
Kenapa kesabaran dan kecintaanMU meliputi ciptaanMU yang senantiasa
tutup telinga akan seruanMU.....
Tutup mata atas perintahMU.......
Dan tutup mulut akan anjuranMU.....

Namun.......
Kadang kegelisahan dan kersesahan
Menggelanyut dalam angan dan meggugah lewat hati......
Kadang Kerinduan dan Kecintaan
Itu hadir tak kenal waktu...
Hingga aku sadar akan kepongahanku dalam hidup...
Sambil meratap dalam sunyi.......
Kurindu jumpa denganmu