Rabu, 19 Februari 2014

Kupanggil Engkau Mentari

 



Saat engkau terhalang awan
sudut hati menjadi rawan
bagai jiwa tak bertuan
merangkak pelan di tepi hutan

Apakah engkau bersembunyi dari smua yang mebutuhkanmu...?
Apakah engaku hilang dari jiwa yang resah menunggumu...?


Aku hanya terdiam
Tak tau kemana di bawa malam

Hari ini seseorang memberiku pesan

dengan sehelai rasa riang, kuputuskan untuk menanamnya di tengah taman 


Dia berkata

"Mentari itu masih Ada

Dia masih Terbit di balik bukit
Tepat saat rakit lelah terkayuh di tepi parit
kau akan temukan dia berbagi suka bersama keluarganya"

Awalnya Aku kaget, tak tau harus berkata apa
saat kenangan menjelma menjadi harapan
saat dunia maya tergeser oleh sebaris fakta
seperti wajah dalam belanga, kini aku terlihat lebih tampan



Keteduhan...
Keindahan...
Kepatuhan...
Serta Ketegaran yang tak pernah luput dari Peranmu
membuatku tunduk tak berdaya di depanmu


mungkin...
Sudah waktunya mencoba mengurai yang berserak
Sudah waktunya mengatur jarak dengan esok
Sudah waktunya mengasah besi menjadi perak
Sebab harapan takkan menjadi bila diam menguasai Gerak

yang pasti
Aku kan tetap meniti mimpi dengan Vespa Butut tuk bisa bertemu dan bersatu denganmu
Aku kan tetap berdiri di sisi Kursi Miringmu menjagamu hingga waktu melelapkanmu
Aku kan tetap berbagi hingga kau tersadar bahwa Anuku Hanya Untuk dirimu 
karna kau menjadi alasan kenapa aku Ada



terakhir kuselip doa dalam tidurmu
Semoga kau selalu tersenyum
Semoga kau selalu bersinar
Menjadi satu dengan Kosmos
Dalam Bingkai Kasih Sayang Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar