Saat engkau terhalang awan
sudut hati menjadi rawan
bagai jiwa tak bertuan
merangkak pelan di tepi hutan
Apakah engkau bersembunyi dari smua yang mebutuhkanmu...?
Apakah engaku hilang dari jiwa yang resah menunggumu...?
Aku hanya terdiam
Tak tau kemana di bawa malam
Hari ini seseorang memberiku pesan
dengan sehelai rasa riang, kuputuskan untuk menanamnya di tengah taman
Dia berkata
"Mentari itu masih Ada
Dia masih Terbit di balik bukit
Tepat saat rakit lelah terkayuh di tepi parit
kau akan temukan dia berbagi suka bersama keluarganya"
Awalnya Aku kaget, tak tau harus berkata apa
saat kenangan menjelma menjadi harapan
saat dunia maya tergeser oleh sebaris fakta
seperti wajah dalam belanga, kini aku terlihat lebih tampan
Keteduhan...
Keindahan...
Kepatuhan...
Serta Ketegaran yang tak pernah luput dari Peranmu
membuatku tunduk tak berdaya di depanmu
mungkin...
Sudah waktunya mencoba mengurai yang berserak
Sudah waktunya mengatur jarak dengan esok
Sudah waktunya mengasah besi menjadi perak
Sebab harapan takkan menjadi bila diam menguasai Gerak
yang pasti
Aku kan tetap meniti mimpi dengan Vespa Butut tuk bisa bertemu dan bersatu denganmu
Aku kan tetap berdiri di sisi Kursi Miringmu menjagamu hingga waktu melelapkanmu
Aku kan tetap berbagi hingga kau tersadar bahwa Anuku Hanya Untuk dirimu
karna kau menjadi alasan kenapa aku Ada
terakhir kuselip doa dalam tidurmu
Semoga kau selalu tersenyum
Semoga kau selalu bersinar
Menjadi satu dengan Kosmos
Dalam Bingkai Kasih Sayang Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar